Jumat, 06 November 2015

KARYA ANAK BANGSA




SEKOLAH
(Mita Kustia_SDN 1 Tanjunganom)


Sekolah...
Pagi-pagi ke sekolah
Menimba ilmu dengan tekun
Guru telah berjasa mengajariku hingga pintar


Sekolahku
Sekolahku yang indah
Sulit melupakanmu
Terlalu banyak kenangan disini
Aku berjanji akan menjunjung tinggi nama sekolahku
SD Negeri 1 Tanjunganom





BUNGA MAWAR
(Rosdiana_SDN 1 Tanjunganom)

Oh.. Bunga mawar
Begitu wangi aroma mu
Kelopak mu indah
Warnamu cerah

Sayangnya... Durimu bisa menyakiti orang lain
Tetapi, itu tak membuat kecantikanmu berkurang
Bagiku, kau tetap bunga tercantik

Kurasa kau tetap bunga sempurna dalam hidupku

Selasa, 03 November 2015

PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN



Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materiil jasmaniah di dalam tubuh, seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistim syaraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan makanan, kelenjar-kelenjar indoktrin, sel-sel pertumbuhan dan kesehatan jasmani.

Secara psikologis, lingkungan mencakup segala stimulasi yang diterima oleh individu sejak dalam konsesi, kelahiran, sampai matinya. Stimulasi itu misalnya berupa: Sifat-sifat genes, interaksi genes, selera, keinginan, perasaan, tujuan-tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosi, kapasitas intelektual. 

Sedangkan secara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungan dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup berkeluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk sebagai lingkungan (Wasty, 2003:84-85).

J.J. Rousseau dengan teorinya kembali ke alam menunjukkan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan anak didik. Karena itu pendidikan harus dilakukan di lingkungan alam yang bersih, tenang, suasana menyenangkan dan segar. Sehingga sang anak tumbuh sebagai menusia yang baik. Jan Ligthart terkenal dengan Pengajaran alam sekitar. Menurut tokoh ini pendidikan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan alam sekitar. Alam sekitar (millieu) adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita.

Pengajaran berdasarkan alam sekitar akan membantu anak didik untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitarnya. Ovide Decroly dikenal dengan teorinya, bahwa sekolah adalah dari kehidupan dan untuk kehidupan (Ecole pour la vie par lavie). Dikemukakan bahwa bawalah kehidupan ke dalam sekolah agar kelak anak didik dapat hidup di masyarakat.

Pandangan ketiga tokoh pendidikan tersebut sedikit banyak menggambarkan bahwa lingkungan merupakan dasar pendidikan/ pengajaran yang penting, bahkan dengan desain ini dapat dikembangkan suatu model persekolahan yang berorientasi pada lingkungan masyarakat.



Ada dua istilah yang sangat erat kaitannya, tetapi berbeda secara gradual, ialah alam sekitar dan lingkungan. Alam sekitar mencakup segala hal yang ada di sekitar kita, baik yang jauh maupun yang dekat letaknya, baik yang masa silam maupun yang akan datang, tidak terikat pada waktu dan tempat. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu.


Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan belajar/ pembelajaran/ pendidikan terdiri dari berikut ini:
  1. Lingkungan sosial adalah masyarakat, baik kelompok besar ataupun kecil
  2. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya
  3. Lingkungan alam (fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar
  4. Lingkungan kultural, mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, dan dapat dijadikan faktor pendukung pengajaran.
Suatu dimensi lingkungan yang sangat penting adalah masyarakat. Dalam konteks ini masyarakat mencakup unsur-unsur individu, kelompok, sumber-sumber alam, sumber daya, sistem nilai dan norma, kondisi/situasi serta masalah-masalah dan berbagai hal dalam masyarakat, secara keseluruhan merupakan lingkungan masyarakat (Yudhistira Abimanyu_Satanom Cirebon)


Senin, 02 November 2015

TRI OUT UKG TINGKAT UPT PENDIDIKAN
KECAMATAN PASALEMAN


Syukur Alhamdulilah kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan serta kekuatan lahir dan batin sehingga kegiatan Try Out UKG tingkat Kecamatan Pasaleman dapat terlaksana sesuai rencana.


Hari Pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 27 Oktober 2015 di GUGUS MAWAR (SD Negeri 1 Cilengkranggirang)






Hari Kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Oktober 2015 di GUGUS MELATI (SD Negeri 2 Pasaleman)









Minggu, 01 November 2015

KERJA BAKTI YUK...


Puluhan siswa SD Negeri 1 Tanjunganom melaksanakan kerja bakti membersihkan sampah di wilayah Desa Tanjunganom. Seusai melaksanakan senam yang rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu pagi, mereka memungut sampah yang ada di jalan Desa Tanjunganom.

SD Negeri 1 Tanjunganom berlokasi di Desa Tanjunganom Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon berada paling ujung Timur Provinsi Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.

Dengan mengenakan seragam Olahraga, mereka tampak semangat memunguti sampah baik yang memenhi saluran air maupun di pinggiran jalan. Kehadiraan anak-anak SD tersebut menimbulkan perhatian warga sekitar. Semoga saja inisiatif yang dilakukan pihak SD Negeri 1 Tanjunganom menjadi tauladan bagi warga untuk lebih memperhatikan lingkungan, sehingga Desa Tanjunganom tetap menjadi Desa yang indah, aman dan nyaman (yudhistira_abimanyu)


PENDIDIKAN KARAKTER SUDAHKAH DITERAPKAN
(Yudhistira Abimanyu)


Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?

Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.

Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.

Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekkan setelah informasi tersebut diberikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.
Pengertian Pendidikan Karakter menurut ahli yaitu sebagai beriku
  1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona; Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
  2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto; Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara
  3. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya; Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
  4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi; Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29)
Akan berhasilkan penerapan pendidikan berkarakter, jika para pendidiknya sendiri. memberikan contoh-contoh karakter yang tidak baik dihadapan para peserta didiknya!...
Waspadalah... waspadalah...

Sabtu, 31 Oktober 2015

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER KESENIAN
SEKOLAH DASAR NEGERI 1 TANJUNGANOM
KEC. PASALEMAN KAB. CIREBON


Persiapan Lomba Paduan Suara

Band Kepret ala SATANOM...

Walaupun personil sudah paada ngantuk... Latihan jalan teruuuuuussssssssss...

Paduan Suara SD Negeri 1 Tanjunganom

Berlatih KOSIDAH disela-sela waktu istirahat

Ketika anak-anak istirahat karena kelelahan berlatih, giliran gurunya nu ngengkreg,,
di goyang mang Dahlan... Nyanyi teruuuuuussss... sampai ngos-ngosan...

KEGIATAN KEAGAMAAN
SEKOLAH DASAR NEGERI 1 TANJUNGANOM
KEC. PASALEMAN KAB. CIREBON


Praktek Sholat

Kajian Sejarah Islam

Rutin Kegiatan Agama

Lomba Kosidah di SD Negeri 1 Cilengkrang

Pawai Taaruf sebelum pelaksanaan SAPTA LOMBA 
di SD Negeri 1 Cilengkranggirang

Pawai Taaruf sebelum pelaksanaan SAPTA LOMBA di SD Negeri 1 Tanjunganom

Bergaya dulu sebelum Pawai Taaruf 
dalam Pelaksanaan SAPTA LOMBA di SD Negeri 1 Tanjunganom

Lomba Kosidah di SD Negeri 1 Tanjunganom

Lomba CCPAI di SD Negeri 1 Tanjunganom


KEGIATAN EKSTRA KURIKULER OLAHRAGA
SEKOLAH DASAR NEGERI 1 TANJUNGANOM 
KEC. PASALEMAN KAB. CIREBON


Salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang dikembangkan yaitu kegiatan olahraga. Kegiatannya meliputi :

Loncaaaaaatttttt....

Loncaaaaaatttttt....

Loncaaaaaatttttt....Maaaakkkkk aku TERBANG nih...

Mak... aku bisa melayang nich...

Aku juga nih Mak... bisa melayang
...
Rehat usai istirahat

Kegiatan Senam rutin dilaksanakan seiap pada hari Sabtu

Indahnya Kebersamaan...



KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
SEKOLAH DASAR NEGERI 1 TANJUNGANOM 
KEC. PASALEMAN KAB. CIREBON


Salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang dikembangkan di SD Negeri 1 Tanjunganom yaitu P R A M U K A


Berphoto bersama setelah selesai melaksanakan perkemanah bersama

Siaga Putri

Siaga Putra

Mana Ekspresinya... 

Mana Ekspresinya... 

Beristirahat setelah selesai melaksanakan kegiatan mencari jejak

Indahnya Kebersamaan

Indahnya Kebersamaan